ACFTA? Pasar Bebas? Siapa Takut

Serbuan barang china? Pengusaha Indo kelabakan? SDM kita kalah kompetensi? Usaha pada tutup dan bangkrut? Wah wah.. Inilah sedikit dari sekian banyak kekhawatiran masyarakat Indonesia saat menghadapi pasar bebas yang telah ditentukan dalam kesepakatan ACFTA. Dan mungkin saja Sobat Bistik adalah salah satunya. Memang wajar sih berpikir demikian karena dengan adanya pasar bebas ini, pemerintah akan memberi kemudahan masuknya barang impor ke pasar dalam negri, yang tentunya mengkhawatirkan bagi sektor industri dalam negri. Belum lagi kalau yang masuk adalah produk unggulan negara pesaing, otomatis produk dalam negri akan kalah kemudian lenyap seketika. Bukan hanya itu saja, kondisi politik bangsa Indonesia yang sampai saat ini pun belum stabil, akan “membantu” melemahkan industri dalam negri. Lebih parahnya lagi adalah produk China yang terkenal murah itu akan sangat mudah untuk memasuki serta menguasai pasar dalam negri.

Nah, sebelum melanjutkan pembahasan, Bistik Sapi mau menjelaskan secara singkat terlebih dahulu tentang apakah gerangan ACFTA itu. Jadi begini lho, ACFTA itu singkatan dari ASEAN-China Free Trade Area. Dengan kata lain, ACFTA adalah kesepakatan antara China dengan negara-negara ASEAN Association of South East Asian Nation - termasuk Indonesia) untuk memasuki area pasar bebas. Trus apa itu pasar bebas? Ya, pasar dimana perdagangan antar negara akan jadi sama saja dengan perdagangan dalam negri, tidak ada lagi biaya dari pemerintah (pajak, bea cukai, bea masuk, dll) yang menghambat kegiatan ekonomi antar negara. Singkatnya, jual pisang goreng di Jakarta sama saja dengan di Beijing.

Ok, kembali ke pembahasan. Tadi kita sudah melihat banyaknya dugaan-dugaan dalam menghadapi pasar bebas yang telah ditentukan dalam kesepakatan ACFTA. Mungkin sekarang kita sudahi dulu berpikir negatifnya. Mari kita telusuri kenapa kita tidak perlu takut menghadapi pasar bebas. Jadi begini, dengan adanya pasar bebas, kesempatan untuk mempromosikan dan mempenetrasikan produk dalam negri akan semakin luas. Yang juga akan memicu produk dalam negri agar semakin berkualitas. Kemudian, efisiensi produksi dalam negri pun akan semakin meningkat karena tidak ada lagi yang namanya monopoli, melainkan persaingan yang buanyak. Bahkan, dengan adanya pasar bebas, SDM kita pun akan semakin terpacu untuk bersaing, sehingga SDM yang berkualitas dan berintegritas akan muncul karena semakin dibutuhkan kalau memang ingin bertahan. Memang sih, semuanya ini terlihat seperti keadaan yang memaksa. Tapi itulah sifat dasar kebanyakan manusia Indonesia, cenderung akan berdiam dalam “kenyamanan” selama belum ada yang memaksa. Dan seandainya tidak “dipaksa” seperti ini, apakah masyarakat Indonesia akan lebih maju? Apakah dengan terjaminnya produk dalam negri dari serangan produk impor akan meningkatkan kualitas produk dalam negri secara signifikan? Apakah akan ada semakin banyak masyarakat Indonesia yang penuh inisiatif, berkualitas, dan kreatif?

Lagi pula, kesepakatan pasar bebas ini toh sudah terlanjur mulai dijalankan. Buat apa terus berfokus sama dugaan-dugaan negatif yang ada. Bukankah lebih baik mikirin peluang-peluang apa saja yang akan muncul ketika pasar bebas. Ayo Sobat Bistik, mari berpikir dan bertindak.

COMMENTS :

Don't Spam Here

0 comments to “ACFTA? Pasar Bebas? Siapa Takut”

Posting Komentar

 

Copyright © 2009 Bistik Sapi | Fresh Themes Gallery. All Rights Reserved. Powered by Blogger.